Hampir 950.000 Pengungsi Gaza Terancam Banjir, Israel Hambat Material Perlindungan

Hampir 950.000 Pengungsi Gaza Terancam Banjir, Israel Hambat Material Perlindungan
Pengungsi Palestina berada di lokasi tenda darurat di Gaza.

BERITAENERGI.COM — Sekitar 950.000 warga Palestina yang mengungsi di Gaza tinggal di lokasi dengan risiko banjir tingkat sedang hingga tinggi, menurut laporan Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) pada 15 Oktober. Lebih dari 400.000 di antaranya menghadapi risiko banjir tinggi. Peringatan itu mengemuka saat Pertahanan Sipil Gaza memperingatkan hujan lebat dan angin kencang yang diperkirakan melanda Jalur Gaza pada Jumat.

Selain risiko banjir, bangunan-bangunan yang rusak akibat pemboman Israel menghadapi bahaya runtuh sebagian. Pertahanan Sipil mendesak penduduk mengambil langkah pencegahan dan menyerukan organisasi kemanusiaan segera menyediakan tempat berlindung yang aman.

Peta Risiko: Siapa Paling Terpapar

Data OCHA yang dirilis 15 Oktober menjadi dasar peringatan tersebut. Sekitar 950.000 pengungsi Palestina menempati lokasi dengan risiko banjir tingkat sedang hingga tinggi. Angka itu setara dengan hampir separuh populasi Gaza yang terdampak perang.

Dari jumlah tersebut, lebih dari 400.000 orang berada di zona risiko banjir tinggi, menurut data yang dikutip Anadolu. Mereka tinggal di tenda dan shelter darurat yang tidak dirancang menghadapi cuaca ekstrem.

Kondisi itu memperparah kerentanan keluarga-keluarga yang sudah kehilangan tempat tinggal tetap. Kawasan permukiman luas yang hancur meninggalkan sedikit pilihan lokasi aman bagi pengungsi.

Gencatan Senjata Oktober 2025, Akses Material Tetap Terbatas

Peringatan cuaca ini muncul di tengah pembatasan Israel yang menghambat masuknya material dan peralatan untuk memperbaiki infrastruktur rusak. Pembatasan berlangsung meski kesepakatan gencatan senjata telah dicapai pada Oktober 2025.

Tanpa material perbaikan, pengungsi tidak bisa memperkuat tenda, meninggikan lantai shelter, atau membersihkan saluran drainase yang tersumbat puing. Keterbatasan itu membuat kesiapan menghadapi musim hujan sangat minim.

Pertahanan Sipil Gaza menyerukan komunitas internasional memperkuat perlindungan terhadap cuaca ekstrem. Seruan itu menyasar lembaga kemanusiaan yang beroperasi di lapangan dengan pasokan terbatas.

Mengapa Musim Hujan Kali Ini Lebih Berbahaya

Gaza memasuki periode hujan dengan lanskap yang berubah drastis akibat pemboman. Reruntuhan bangunan memenuhi banyak area, sementara jaringan drainase dan jalan rusak parah.

Kondisi itu memperbesar peluang genangan dan banjir bandang di lokasi pengungsian. Tenda yang bocor, alas tidur basah, dan air kotor meningkatkan risiko penyakit menular di tengah keterbatasan layanan kesehatan.

Bagi penghuni shelter sementara, hujan bukan sekadar ketidaknyamanan. Angin kencang dapat merobohkan tenda, sementara bangunan yang tinggal kerangka berisiko ambruk menimpa penghuninya.

Yang Ditunggu: Akses Material dan Shelter Layak

Peringatan Pertahanan Sipil Gaza menempatkan dua kebutuhan mendesak di depan mata: tempat berlindung yang tahan cuaca dan kelonggaran akses material perbaikan. Tanpa keduanya, hampir sejuta pengungsi menghadapi musim hujan dengan perlindungan seadanya.

Hingga kini belum ada indikasi pembatasan Israel akan dilonggarkan menjelang cuaca ekstrem. Organisasi kemanusiaan diminta bergerak cepat sebelum hujan tiba pada Jumat.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index