Partai Demokrat Kuasai Senat dan DPR AS, Sikap Pro-Israel Jadi Biang Kekalahan

Partai Demokrat Kuasai Senat dan DPR AS, Sikap Pro-Israel Jadi Biang Kekalahan
Kandidat Demokrat Abdul El-Sayed meraih suara dalam pemilihan sela di Michigan.

BERITAENERGI.COM — Partai Demokrat berhasil merebut kendali Dewan Perwakilan Rakyat dan Senat Amerika Serikat dari Partai Republik dalam pemilihan sela. Kekecewaan publik terhadap kebijakan luar negeri yang mendukung agresi Israel disebut sebagai pemicu utama pergeseran suara, dengan satu kursi di Michigan menjadi bukti paling telanjang.

Kemenangan Demokrat di kedua kamar Kongres menandai penolakan terbuka pemilih Amerika terhadap sikap defensif Partai Republik yang selama ini membela kepentingan Israel dalam perumusan kebijakan luar negeri Washington. Partai Republik dinilai tidak hanya menjalankan keinginan pemerintah Israel, tetapi juga menyerang dan mempermalukan siapa pun yang menentang pilihan tersebut.

Michigan menjadi contoh paling tajam dari pergeseran itu. Di negara bagian yang paling ketat diawasi hasilnya, kandidat Demokrat Abdul El-Sayed mengalahkan rival Republik Mike Rogers. El-Sayed dikenal vokal terhadap aksi militer Israel dan penggunaan dana pajak Amerika untuk membiayainya.

Uang AIPAC dan Kegagalan Strategi Politik Uang

Kelompok lobi pro-Israel, American Israel Public Affairs Committee (AIPAC), menggelontorkan hampir 30 juta dolar AS untuk menggagalkan El-Sayed di pemilihan pendahuluan Demokrat. Angka itu menjadi investasi terbesar AIPAC dalam satu kontestasi tunggal sepanjang sejarahnya. Mereka mendukung Haley Stevens, politikus yang menyebut dirinya "Demokrat Zionis".

Setelah pemilihan pendahuluan, komite aksi politik (super PAC) afiliasi AIPAC terus membelanjakan dana untuk menyerang El-Sayed dan menguntungkan Rogers. Stevens sendiri mengejutkan partainya dengan mendukung rival Republik El-Sayed hanya beberapa hari sebelum pemungutan suara, dengan alasan jelas: pesan kampanye El-Sayed menentang aksi militer Israel dan pendanaan pajak AS untuknya.

Hasilnya membalikkan perhitungan. Dana besar dan dukungan tokoh partai tidak cukup membendung kemarahan pemilih.

Pengakuan Wakil Presiden JD Vance

Wakil Presiden JD Vance mengakui pagi setelah pemilu bahwa koalisi yang mengantarkan Donald Trump dan dirinya ke Gedung Putih pada 2024 justru menentukan hasil 2026. Mengutip penasihat terbaiknya, Vance menyebut empat prioritas yang memotivasi pemilih.

"Mengakhiri perang terhadap Iran, biaya hidup yang melonjak, mengutamakan Amerika, dan mengubah hubungan AS dengan Israel," kata Vance, seperti dikutip dari pernyataannya.

"Pemilih kami datang ke bilik suara. Dan empat alasan di atas adalah mengapa banyak dari mereka memilih Demokrat," ujarnya menambahkan.

Donald Trump Jr, putra presiden, secara terbuka membenarkan pengakuan Vance atas kegagalan Partai Republik. Beberapa jam kemudian, Presiden Trump menyebut analisis Vance "bagus", meski tetap membela perang yang kontroversial itu.

Kebijakan Gaza sebagai Akar Pemberontakan Pemilih

Selama setahun terakhir, Trump dan politikus lain memperparah situasi Gaza dengan perang Iran yang dinilai gagal dan kampanye militer baru Israel di Lebanon. Publik Amerika yang semakin antiperang menyaksikan dengan marah bagaimana para pemimpin mereka menggunakan dana pajak untuk kekerasan.

Koalisi yang memilih Trump pada 2024 dibangun di atas penolakan terhadap apa yang ia sebut "perang abadi" dan "perang bodoh". Dalam kampanye, Trump bahkan berbicara eksplisit tentang mengakhiri kekerasan di Gaza. Kepada seorang pemilih di Dearborn, Michigan, ia menjawab: "Ini harus berhenti. Yang kita inginkan adalah perdamaian."

Pernyataan itu kini terasa ironis. Peluncuran perang AS-Israel terhadap Iran tahun ini dipandang sebagai pengkhianatan dan pembalikan kehendak pemilih yang mengantarkan pemerintahan ini berkuasa.

Peringatan yang Sudah Diabaikan Sejak 2024

Demokrat sebenarnya sudah menerima peringatan ini pada 2024. The Jerusalem Post melaporkan pada Februari bahwa pejabat Komite Nasional Demokrat mengakui kebijakan Gaza di era Presiden Joe Biden sebagai "beban bersih negatif" dalam pemilu tersebut. Kekalahan partai seharusnya menjadi sinyal bagi Republik agar tidak menganggap remeh kemarahan publik soal Gaza.

Juga bukan rahasia bahwa perang ini kemungkinan besar tidak akan terjadi tanpa peran operatif Israel, termasuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, dan tokoh neokonservatif seperti Lindsey Graham. Faksi yang bersikeras membela Israel dalam segala kondisi itu kini menghadapi kenyataan politik: pemilih Amerika mampu dan bersedia mencopot mereka.

Pesan pemilih tahun ini sulit disalahtafsirkan. Meminjam ungkapan strategi politik Demokrat James Carville, akar persoalannya satu: Gaza.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index