Transaksi Jumbo BYAN Rp26,1 Triliun

Transaksi Jumbo BYAN Rp26,1 Triliun

 

JAKARTA | Saham emiten batu bara PT Bayan Resources Tbk (BYAN) mencatatkan transaksi raksasa di pasar negosiasi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu, 7 Oktober 2026. Nilainya mencapai Rp26,10 triliun untuk 10.084.088.370 saham, dieksekusi di harga Rp2.588 per saham.

Transaksi ini dibaca pasar sebagai sinyal kuat masuknya PT Jhonlin Baratama, perusahaan milik pengusaha asal Kalimantan Selatan Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam, sebagai pemegang saham besar BYAN. Bisnis.com dalam laporannya menyebut jumlah saham yang berpindah tangan identik dengan jumlah dalam adendum perjanjian jual beli saham bersyarat antara keluarga Low Tuck Kwong dan Jhonlin Baratama.

Hingga artikel ini disusun, belum ada keterbukaan informasi resmi yang secara eksplisit mengonfirmasi bahwa transaksi nego tersebut merupakan penyelesaian akuisisi oleh Jhonlin. Investor.id mencatat hal serupa saat pertama kali memberitakan transaksi ini.

Diskon hampir 80 persen dari harga reguler

Mengacu data pasar negosiasi BEI yang dikutip Bisnis.com, transaksi terjadi dalam tiga kali crossing pada sesi pertama perdagangan. Kontan, merujuk data RTI, juga mencatat ketiga transaksi itu berlangsung di harga yang sama, yakni Rp2.588 per saham.

Harga tersebut jauh di bawah harga BYAN di pasar reguler. Bisnis.com menghitung diskonnya sekitar 79,9 persen terhadap harga reguler Rp12.875 per saham, dengan valuasi setara price to book value sekitar 1,73 kali. Kontan, yang membandingkan dengan harga penutupan, mencatat selisihnya sekitar 76,5 persen.

Ukuran transaksi ini juga mendominasi aktivitas bursa hari itu. Menurut Bisnis.com dan IDXChannel, transaksi nego BYAN menyumbang sekitar 86,5 persen dari total nilai transaksi BEI yang mencapai Rp30,18 triliun. Di luar BYAN, nilai transaksi reguler hanya sekitar Rp4,08 triliun.

Data transaksiAngka
TanggalRabu, 7 Oktober 2026
Jumlah saham10.084.088.370 saham (100,8 juta lot)
Harga pelaksanaanRp2.588 per saham
Nilai transaksiRp26,10 triliun
Harga reguler pembandingRp12.875 per saham
Diskonsekitar 79,9%
Porsi dari nilai transaksi BEI hari itusekitar 86,5% dari Rp30,18 triliun

Sumber: Bisnis.com, Kontan, IDXChannel.

Jumlah saham identik dengan adendum CSPA

Kecocokan angka menjadi alasan utama pasar mengaitkan transaksi ini dengan Haji Isam. Investor.id melaporkan, dalam adendum perjanjian jual beli saham bersyarat (Conditional Share Purchase Agreement/CSPA) yang diteken 1 Oktober 2026, porsi saham yang akan dibeli Jhonlin Baratama naik dari 10.000.000.500 saham menjadi 10.084.088.370 saham. Angka terakhir itu sama persis dengan volume transaksi nego pada 7 Oktober.

Manajemen Bayan menyampaikan perubahan perjanjian tersebut dalam keterbukaan informasi. Menurut Investor.id, perseroan menerima surat pemberitahuan mengenai adendum itu pada 5 Oktober 2026. Kontan mencatat keterbukaan informasinya dirilis Selasa, 6 Oktober, dan menyebut Jhonlin akan memiliki 10,08 miliar saham BYAN setelah seluruh syarat pendahuluan terpenuhi.

Riset BRI Danareksa Sekuritas yang dikutip Bisnis.com menilai tambahan sekitar 84,08 juta saham itu membuka peluang Haji Isam menjadi pemegang saham terbesar BYAN lewat Jhonlin Baratama setelah transaksi tuntas. Laporan IDNFinancials sebelumnya memperkirakan porsi tersebut setara sekitar 30 persen saham BYAN.

Low Tuck Kwong lepas saham sehari sebelumnya

Sehari sebelum transaksi nego, pendiri sekaligus Direktur Utama Bayan, Low Tuck Kwong, menjual 33.333.335 saham BYAN. Investortrust melaporkan penjualan itu dilakukan di harga Rp11.025 per saham.

Kontan juga mencatat transaksi nego tersebut melibatkan Maybank Sekuritas dan Mandiri Sekuritas. Media yang sama mengingatkan bahwa transaksi di pasar negosiasi perlu dibedakan dari perubahan pengendalian perusahaan, yang baru efektif setelah syarat-syarat dalam CSPA terpenuhi.

Kronologi: dari rumor Agustus hingga transaksi Oktober

Rencana masuknya Haji Isam ke Bayan bergulir kurang dari dua bulan, dari bantahan manajemen hingga transaksi di bursa.

TanggalPeristiwaRujukan
18 Agustus 2026Manajemen BYAN menyatakan tidak mengetahui rencana pengambilalihan sekitar 62,2% saham oleh Haji Isam atau pihak terafiliasinya. Rumor ini sempat membuat saham BYAN melonjak sekitar 20% dalam sehari.Indonesia Business Post, Katadata
28 Agustus 2026Elaine Low menjadi pemegang saham BYAN setelah menerima hibah sekitar 22% saham dari ayahnya, Low Tuck Kwong.IDNFinancials
9 September 2026Bloomberg melaporkan entitas Haji Isam mengajukan tawaran tunai sekitar US$3 miliar untuk sekitar 62% saham BYAN, setara diskon sekitar 80% dari kapitalisasi pasar. Asing mencatat jual bersih BYAN pada hari itu.Kontan/Reuters, Indonesia Business Post
14 September 2026BYAN mengumumkan keadaan kahar (force majeure) atas kontrak pasokan batu bara akibat pembatasan kuota produksi oleh pemerintah.IDNFinancials
16 September 2026Low Tuck Kwong dan Elaine Low meneken CSPA dengan PT Jhonlin Baratama untuk melepas 10 miliar saham BYAN.Kontan
21 dan 23 September 2026Direktur BYAN Alastair McLeod menjual saham BYAN dalam dua tahap di kisaran Rp13.300-an per saham.Kontan
Pekan keempat September 2026BYAN mencabut status force majeure setelah tiga anak usahanya mendapat tambahan kuota produksi lewat revisi RKAB 2026.IDNFinancials
1 Oktober 2026Adendum CSPA diteken, porsi saham yang dialihkan naik menjadi 10.084.088.370 saham.Investor.id
6 Oktober 2026BYAN merilis keterbukaan informasi soal adendum. Low Tuck Kwong menjual 33,33 juta saham BYAN.Kontan, Investortrust
7 Oktober 2026Transaksi nego 10,08 miliar saham BYAN senilai Rp26,10 triliun di harga Rp2.588 per saham.Bisnis.com

Pada hari yang sama, emiten Haji Isam gadaikan saham ke Bank Mandiri

Berdekatan dengan transaksi BYAN, pemegang saham pengendali dua emiten milik Haji Isam, PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) dan PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN), mengumumkan penggadaian saham ke PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Bisnis.com melaporkan keterbukaan informasinya terbit pada 7 Oktober 2026.

Di JARR, PT Eshan Agro Sentosa yang memegang 86,64 persen saham menggadaikan seluruh kepemilikannya. Di PGUN, tiga pemegang saham pengendali juga menggadaikan 100 persen sahamnya, yakni PT Araya Agro Lestari (38,44 persen), PT Citra Agro Raya (38,25 persen), dan PT Baramega Cipta Mulia Persada (15,69 persen). Menurut Bisnis.com, transaksi gadai di PGUN sudah terlaksana sejak 30 September 2026.

Kedua emiten menyebut gadai itu merupakan jaminan atas fasilitas kredit yang diperoleh perusahaan afiliasi. Manajemen juga menegaskan aksi ini tidak mengubah pengendalian, tidak menimbulkan dilusi, dan tidak mengubah modal ditempatkan maupun disetor.

Keterbukaan informasi tersebut tidak menyebut apakah fasilitas kredit itu berkaitan dengan pendanaan akuisisi BYAN. Namun, Indonesia Business Post sebelumnya mengutip sumber yang menyebut Haji Isam kemungkinan akan mendanai pembelian saham Bayan melalui bank-bank BUMN.

Valuasi dipersoalkan, BEI kaji batas harga pasar nego

Selisih harga yang lebar memicu pertanyaan soal kewajaran valuasi. Riset BRI Danareksa Sekuritas yang dikutip Kontan menghitung harga nego Rp2.588 setara rasio harga terhadap laba (PER) tahunan sekitar 6,1 kali. Angka itu jauh di bawah PER BYAN di pasar reguler yang disebut sekitar 29,7 kali. Kontan Insight pada 8 Oktober bahkan mengangkat pertanyaan apakah harga beli Haji Isam terlalu murah.

Di lantai bursa, sektor energi menjadi pemberat utama pada hari transaksi. Riset Ciptadana Sekuritas Asia yang dikutip Bareksa mencatat IHSG ditutup turun 0,75 persen ke 6.147 pada 7 Oktober, dengan sektor energi memimpin pelemahan sebesar 1,56 persen. Beritasatu juga mencatat energi sebagai sektor dengan penurunan terdalam hari itu. Tekanan berlanjut pada Kamis pagi, 8 Oktober, ketika Kompas.com melaporkan sektor energi kembali menjadi pemberat terbesar IHSG di awal perdagangan.

Dari sisi regulator, Katadata melaporkan BEI tengah mengkaji pembatasan harga transaksi di pasar negosiasi, menyusul masukan dari pelaku pasar. Wacana itu mencuat seiring rencana akuisisi BYAN, meski pihak bursa menegaskan kajian tersebut sudah dimulai sebelum transaksi antara keluarga Low dan Haji Isam.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index