Harga BBM Pertamina Stabil 31 Oktober 2026, Pertalite-Biosolar Tak Naik hingga Akhir Tahun

Harga BBM Pertamina Stabil 31 Oktober 2026, Pertalite-Biosolar Tak Naik hingga Akhir Tahun
Pertamina Patra Niaga memastikan harga Pertalite dan Biosolar tidak berubah hingga akhir 2026.

BERITAENERGI.COM — Pertamina Patra Niaga memastikan harga Pertalite dan Biosolar tidak berubah hingga akhir 2026, meski harga minyak mentah dunia menembus USD 117,80 per barel pada Jumat (30/10/2026). Keputusan menahan harga subsidi itu diambil untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah eskalasi konflik militer Amerika Serikat dan Iran. Di SPBU swasta, harga bensin dan diesel juga terpantau stagnan.

Sejak 2 September 2026, harga bahan bakar minyak di seluruh SPBU Indonesia tidak mengalami penyesuaian. Ketentuan itu berlaku untuk wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya dengan tarif Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) 5 persen. Di luar Jabodetabek, harga mengikuti besaran persentase PBBKB masing-masing daerah.

Pertamina Patra Niaga menegaskan komitmennya menahan harga bahan bakar bersubsidi sesuai arahan pemerintah. Langkah tersebut ditempuh saat harga minyak mentah global justru bergerak naik.

Harga Minyak Dunia Melonjak Lebih dari 10 Persen

Pada perdagangan Jumat (30/10/2026), West Texas Intermediate (WTI) menguat ke USD 104,92 per barel. Brent Crude naik ke posisi USD 117,80 per barel. Sehari sebelumnya, Kamis (29/10/2026), kedua patokan itu masih berada di kisaran USD 101,39 dan USD 114,66 per barel.

Sepanjang Oktober, WTI dan Brent mencatat kenaikan lebih dari 10 persen. Pemicunya adalah kekhawatiran eskalasi konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran. Laporan pengarahan opsi serangan militer kepada Presiden AS Donald Trump memicu sentimen risiko pasar, ditambah ancaman serangan udara ke Teheran pasca-pemilu paruh waktu.

Wakil Presiden AS JD Vance dilaporkan mengirim surat untuk membuka kembali perundingan perdamaian dengan Iran. Namun ketegangan antara Arab Saudi dan kelompok Houthi, serta ancaman keamanan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz, tetap memperketat pasokan harian.

ICP September Melonjak Jauh di Atas Asumsi APBN

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan Indeks Harga Minyak Indonesia (ICP) periode September 2026 sebesar USD 112,81 per barel. Angka itu melonjak USD 23,38 dibandingkan Agustus 2026 yang sebesar USD 89,43 per barel.

Posisi ICP tersebut berada jauh di atas asumsi APBN 2026 yang dipatok USD 70 per barel. Selisihnya mencapai USD 42,81 per barel, menandakan tekanan fiskal dari sisi subsidi energi jika harga dunia bertahan tinggi.

Selisih Harga Pertamina dan SPBU Swasta Tipis

BP-AKR, Shell Indonesia, dan Vivo Energy juga tidak mengubah struktur harga jual bahan bakar. Shell Indonesia saat ini hanya menyediakan varian diesel V-Power Diesel dan tidak memasarkan lini bensin di pasar domestik.

Persaingan harga non-subsidi antara Pertamina dan operator swasta terpantau ketat. Untuk RON 92, Pertamax dijual Rp15.950 per liter, sedangkan BP 92 dan Vivo Revvo 92 dipatok Rp16.130 per liter. Selisihnya Rp180 per liter.

Di kelas RON 95, Pertamax Green 95 berada di angka Rp19.150 per liter, berbanding Rp19.330 per liter untuk BP Ultimate dan Vivo Revvo 95. Adapun Pertamina Dex dibanderol Rp25.200 per liter, sementara Shell V-Power Diesel, BP Ultimate Diesel, dan Vivo Primus Plus berada di level Rp25.420 per liter.

Bensin Indonesia Termurah Kedua di Asia

Dengan kurs tengah Bank Indonesia Rp18.128 per dolar AS per 30 Oktober 2026, harga bensin Indonesia menempati posisi termurah kedua di Asia setelah Malaysia. Untuk produk diesel, Biosolar Rp6.800 per liter menjadikan Indonesia sebagai negara dengan tarif solar paling terjangkau di kawasan.

Posisi itu memberi ruang bagi pemerintah menahan harga subsidi jangka pendek. Namun dengan ICP yang sudah menembus USD 112 per barel, beban subsidi dan kompensasi energi berpotensi membengkak bila konflik AS-Iran berlanjut hingga akhir tahun.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index