BERITAENERGI.COM — Harga minyak mentah Brent naik ke US$97,09 per barel dan WTI ke US$90,50 per barel pada perdagangan Kamis (5/11/2026), setelah sebelumnya anjlok ke level terendah pekan ini. Kenaikan terjadi di tengah meredanya kekhawatiran pasokan global. Di dalam negeri, Pertamina memastikan harga Pertalite dan Biosolar tidak berubah hingga akhir tahun 2026.
Pasar minyak dunia berbalik arah. Setelah sempat tertekan, harga minyak mentah kembali menguat pada perdagangan Kamis (5/11/2026). Kontrak Desember 2026 untuk West Texas Intermediate (WTI) naik ke US$90,50 per barel, sementara Brent Crude kontrak Januari 2027 menembus US$97,09 per barel.
Angka itu berbalik dari posisi Rabu (4/11), ketika Brent ditutup di sekitar US$94,62 dan WTI di US$88,12 per barel. Keduanya sempat menyentuh titik terendah sepanjang pekan.
Pemicu Pelemahan di Tengah Pekan
Tekanan jual muncul setelah aktivitas pengiriman minyak melalui Selat Hormuz berangsur normal. Pasar membaca situasi itu sebagai sinyal pasokan global tidak lagi dalam bahaya.
Harapan damai dalam perundingan Amerika Serikat-Iran yang dimediasi Qatar menambah bobot sentimen pelemahan. Pelaku pasar juga menanti arah kebijakan ekonomi AS pasca pemilu.
Penguatan pada Kamis lahir dari aksi beli setelah koreksi beberapa sesi. Perdagangan masih berjalan hingga penutupan sesi Amerika Serikat, sehingga angka tersebut masih bisa bergerak sebelum penutupan resmi.
ICP September Melonjak, Ruang Fiskal Terbuka
Kementerian ESDM menetapkan Indeks Harga Minyak Indonesia (ICP) periode September 2026 sebesar US$112,81 per barel. Angka itu melonjak US$23,38 dari Agustus 2026 yang tercatat US$89,43 per barel.
Level ICP September masih jauh di atas asumsi APBN 2026 sebesar US$70 per barel. Selisih itu memberi ruang fiskal positif bagi pemerintah. ICP periode Oktober 2026 dijadwalkan diumumkan pertengahan November dan diperkirakan mencerminkan koreksi harga dunia belakangan ini.
Pertalite dan Biosolar Tidak Naik hingga Akhir Tahun
Di sisi hilir, harga BBM Pertamina pada Jumat, 6 November 2026 masih mengikuti penyesuaian terakhir yang berlaku sejak 2 September 2026 untuk wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya. Komponen pajak bahan bakar kendaraan bermotor (PBBKB) di wilayah ini sebesar 5 persen.
Tidak ada perubahan harga untuk seluruh lini produk, baik bensin maupun diesel. Pertamina Patra Niaga memastikan harga Pertalite dan Biosolar tidak naik hingga akhir tahun 2026 sesuai arahan pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat.
Produk non-subsidi seperti Pertamax, Pertamax Green 95, Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex juga bertahan di level yang sama. Konsumen di luar Jabodetabek perlu menyesuaikan dengan komponen PBBKB daerah masing-masing yang membuat harga sedikit berbeda antarprovinsi.
BP, Shell, dan Vivo Kompak di Harga Lama
Persaingan di segmen non-subsidi tetap ketat. BP-AKR, Shell Indonesia, dan Vivo Energy tidak mengubah daftar harga produknya pada Jumat, 6 November 2026.
Shell Indonesia hanya menjual produk diesel, yakni V-Power Diesel, tanpa lini bensin di pasar domestik. Produk diesel ketiga operator swasta berada di harga sama, Rp25.420 per liter. Vivo Revvo 95 dan BP Ultimate yang menyasar segmen RON 95 juga kompak di Rp19.330 per liter.
Selisih Pertamina vs Swasta Cuma Rp180 per Liter
Jarak harga antara produk Pertamina dan operator swasta pada Jumat, 6 November 2026 sangat tipis. Konsumen yang mencari RON 92 hanya perlu membayar selisih Rp180 per liter jika memilih produk swasta. Selisih yang sama berlaku di segmen RON 95.
Dengan beda setipis itu, pilihan konsumen lebih ditentukan oleh lokasi SPBU, program loyalitas, dan kualitas layanan ketimbang harga. Produk diesel swasta sedikit lebih mahal Rp220 per liter dibandingkan Pertamina Dex, meski kerap disertai promo tertentu.
Bensin Indonesia Termurah Kedua di Asia
Perbandingan harga di sembilan negara Asia memakai kurs tengah Bank Indonesia Rp18.140 per dolar AS per 5 November 2026. Untuk Indonesia, harga yang dipakai adalah Pertalite dan Biosolar, yaitu harga yang dibayar konsumen.
Indonesia menjadi negara dengan bensin termurah kedua di Asia setelah Malaysia berkat subsidi Pertalite. Hanya Malaysia yang lebih murah lewat RON 95 skema subsidi, sementara jarak Indonesia dengan negara lain sangat lebar. Singapura tetap termahal dengan bensin menembus Rp44.990 per liter.
Untuk solar, posisi Indonesia justru paling murah berkat subsidi Biosolar Rp6.800 per liter. Malaysia yang unggul di bensin mencatat harga solar jauh lebih tinggi. Negara industri seperti Jepang dan Korea Selatan berada di kisaran Rp18.300-Rp25.400 per liter.
Rebound harga minyak dunia belum mengubah harga di pompa karena penyesuaian ritel mengikuti periode yang lebih panjang. Yang perlu dicermati justru ICP Oktober yang akan diumumkan pertengahan November, karena itu yang menentukan arah biaya subsidi dan penerimaan negara pada kuartal berikutnya.