BERITAENERGI.COM — PT Pertamina Patra Niaga memastikan tidak ada perubahan harga bahan bakar minyak (BBM) pada awal November 2026, dengan Pertamax di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya masih dibanderol Rp15.950 per liter. Kepastian ini menutup spekulasi kenaikan yang sempat muncul di tengah fluktuasi harga energi global. Bagi konsumen, harga Pertalite dan Biosolar subsidi juga tidak bergeser dari ketetapan sebelumnya.
Jakarta, Aktualita.co — Harga Pertamax di Jakarta bertahan di Rp15.950 per liter sejak Agustus 2026, dan hingga Kamis (5/11/2026) belum ada penyesuaian baru. Pertalite tetap dijual Rp10.000 per liter, sementara Biosolar subsidi Rp6.800 per liter. Angka-angka ini menjadi acuan bagi konsumen di Jakarta dan sejumlah daerah dengan kelompok harga yang sama, termasuk wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.
Harga Nonsubsidi Tidak Seragam di Seluruh Indonesia
Berbeda dengan BBM penugasan dan subsidi, harga produk nonsubsidi Pertamina tidak selalu sama di setiap daerah. Di Sulawesi Selatan, termasuk Makassar, Gowa, Maros, Pangkep, dan Parepare, Pertamax tercatat Rp16.300 per liter atau lebih tinggi Rp350 dibandingkan Jakarta.
Harga Rp16.300 per liter juga berlaku di sejumlah wilayah Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi lainnya. Beberapa daerah seperti Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau di luar kawasan perdagangan bebas tertentu, serta Kalimantan Utara mematok Pertamax Rp16.650 per liter. Kawasan perdagangan bebas Sabang justru lebih murah, yakni Rp14.950 per liter.
Perbedaan itu antara lain dipengaruhi besaran Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) yang berlaku menurut wilayah. Karena itu, daftar harga Jakarta tidak bisa langsung dijadikan patokan untuk seluruh SPBU Pertamina di Indonesia.
Pertamax Turbo dan Dexlite Sudah Naik Sejak September
Meski harga Pertamax stagnan, sejumlah produk nonsubsidi lain mengalami penyesuaian pada September 2026. Pertamax Turbo di Jakarta naik dari Rp18.300 menjadi Rp19.600 per liter. Dexlite melonjak dari Rp19.700 menjadi Rp23.700 per liter, sedangkan Pertamina Dex berubah dari Rp21.150 menjadi Rp25.200 per liter.
Pertamax Green 95 juga disesuaikan mulai 2 September 2026, dari Rp16.600 menjadi Rp19.150 per liter. VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, menjelaskan bahwa perubahan harga Pertamax Green mengikuti penyesuaian produk nonsubsidi lainnya.
"Mulai 2 September 2026, Pertamina Patra Niaga menyesuaikan harga Pertamax Green 95. Penyesuaian ini mengikuti harga sejumlah produk BBM Non Subsidi yang telah dilakukan sebelumnya," ujar Kitty.
Dengan demikian, harga yang berlaku pada November bukan kenaikan baru, melainkan kelanjutan dari penetapan harga sebelumnya. Pertamax Green 95 sendiri masih dipasarkan secara terbatas di sejumlah wilayah, sehingga tidak semua SPBU menyediakan produk ini.
Pertalite dan Biosolar Dikunci Sampai Akhir 2026
Di tengah mahalnya sejumlah BBM nonsubsidi, Pertalite dan Biosolar tetap menjadi tumpuan masyarakat untuk transportasi sehari-hari. Pemerintah sebelumnya menyatakan kebijakan mempertahankan harga kedua produk tersebut hingga akhir 2026.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam keterangan resmi pada 6 April 2026 menjelaskan bahwa kebijakan itu didasarkan pada proyeksi indikator ekonomi makro.
"Keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan proyeksi indikator ekonomi makro, yaitu asumsi selama harga minyak mentah atau Indonesia Crude Price (ICP) berada pada level rata-rata maksimal USD97 per barel," kata Airlangga.
Kepastian harga di awal November memberi ruang bagi konsumen dan pelaku usaha angkutan untuk menghitung biaya operasional tanpa kejutan. Namun, karena harga nonsubsidi dievaluasi berkala, pengguna Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex perlu memantau pengumuman resmi Pertamina Patra Niaga pada periode berikutnya.