OJK Sebut Sektor Keuangan Stabil di Tengah Inflasi dan Suku Bunga Tinggi

OJK Sebut Sektor Keuangan Stabil di Tengah Inflasi dan Suku Bunga Tinggi
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menyampaikan hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK dalam konferensi pers daring, Kamis (5/11/2026).

BERITAENERGI.COM — Otoritas Jasa Keuangan menilai sektor jasa keuangan Indonesia tetap stabil meski tekanan inflasi global dan ekspektasi suku bunga tinggi berlanjut hingga 2027. Penilaian itu diputuskan dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK pada 28 Oktober 2026. Di sisi riil, manufaktur dan penjualan kendaraan listrik justru menguat.

Paragraf pembuka: Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menyampaikan hasil rapat tersebut dalam konferensi pers daring, Kamis (5/11/2026). Menurut OJK, gejolak eksternal masih menjadi sumber utama tekanan, mulai dari harga energi yang naik akibat eskalasi konflik geopolitik hingga pengetatan moneter di banyak negara.

Harga Energi Jadi Pemicu Inflasi Global

Dinamika inflasi dunia masih dipengaruhi kenaikan harga energi seiring memanasnya konflik geopolitik. Lonjakan inflasi di sejumlah negara, termasuk Jepang dan Inggris, bahkan melampaui rentang target yang ditetapkan otoritas masing-masing.

Kondisi itu mendorong bank sentral global melanjutkan pengetatan kebijakan moneter. Kecenderungannya, suku bunga kebijakan bertahan di level tinggi hingga 2027.

Ruamg fiskal yang terbatas di berbagai negara, terutama di kawasan Eropa, turut memperkecil kapasitas pemerintah memberi subsidi bagi masyarakat terdampak kenaikan harga. Situasi ini memicu ketegangan sosial di sejumlah wilayah.

"Ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi serta gelombang instabilitas politik global turut meningkatkan ketidakpastian sehingga mendorong sentimen risk-off di pasar keuangan global," ujar Kiki, sapaan akrab Friderica.

Bursa Global Tertekan, Obligasi Naik

Kinerja bursa saham global juga terpengaruh koreksi saham teknologi. Di saat bersamaan, imbal hasil obligasi pemerintah di berbagai negara terus menanjak ke level tertinggi dalam beberapa dekade terakhir.

Di dalam negeri, OJK mencatat pergeseran pola konsumsi masyarakat yang semakin konservatif. Meski inflasi naik akibat dorongan harga pangan, pertumbuhan uang beredar dan inflasi inti terpantau relatif stabil.

Manufaktur dan Mobil Listrik Jadi Penopang

Sektor riil menunjukkan ketahanan yang positif. Penjualan kendaraan bermotor tumbuh cukup solid, utamanya didorong meningkatnya penjualan mobil listrik.

Dari sisi produksi, aktivitas manufaktur nasional mengalami penguatan. PMI manufaktur pada Oktober 2026 naik ke level 54, angka tertinggi sejak Maret 2024.

Laju pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan III-2026 terjaga positif di level 5,4% year-on-year. Seluruh lapangan usaha tercatat tumbuh positif.

Penutup: Bagi OJK, kombinasi tekanan eksternal dan permintaan domestik yang masih tumbuh menjadi alasan utama kewaspadaan dini. Stabilitas sektor keuangan menjadi kunci agar gejolak pasar global tidak menjalar ke ekonomi riil.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index