BERITAENERGI.COM — Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) membentuk gugus tugas baru untuk memutus jalur darat pasokan Iran, memperluas blokade laut yang sudah berjalan berbulan-bulan di Selat Hormuz. Satgas Iron Gate akan berkoordinasi dengan lembaga pemerintah AS lainnya guna mencegah perpindahan sistem senjata canggih, teknologi dual-use, material yang dikenai sanksi, serta aliran pendapatan ilegal melintasi perbatasan darat Iran dan Laut Kaspia.
Panglima CENTCOM Laksamana Brad Cooper menyatakan Satgas Iron Gate akan memperkuat "keberhasilan blokade berlapis kami terhadap Iran di laut". Markasnya di Tampa, Florida, dan operasinya mencakup pengawasan perbatasan darat Iran yang selama ini menjadi jalur alternatif pasokan.
Pengumuman itu disampaikan pada Sabtu, bersamaan dengan laporan CENTCOM bahwa pihaknya melumpuhkan sebuah kapal kargo komersial di Teluk Oman. Menurut pernyataan militer AS, pesawat tempur menembakkan amunisi presisi ke buritan kapal berbendera St. Kitts, M/V Huda, setelah kru diarahkan meninggalkan ruang sasaran.
Rekam Jejak Operasi Laut Sejak Juli
Sejak Juli, operasi penegakan hukum AS telah mengalihkan 147 kapal dagang yang mematuhi arahan dan melumpuhkan lima kapal niaga yang menolak. Angka itu memberi gambaran skala tekanan maritim yang kini diperluas ke jalur darat.
Michael Mulroy, mantan wakil asisten menteri pertahanan AS untuk Timur Tengah, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa satgas baru bertugas memetakan lokasi masuknya sistem senjata, cara memutusnya, dan bagaimana Iran mengangkut hasil energinya.
"Berbeda dengan Operation Epic Fury yang utamanya menyasar target militer, saya kira target-target ini akan berfokus pada sasaran ekonomi dan infrastruktur, sebagai bagian dari rencana menyeluruh untuk memutus kemampuan rezim bertempur dan membiayai dirinya," ujar Mulroy.
Ledakan di Qeshm dan Insiden Ranjau Laut
Kantor berita resmi Iran, IRNA, melaporkan suara dua ledakan di Pulau Qeshm yang terletak di Selat Hormuz. IRNA juga melaporkan "beberapa ledakan" di kota Jask, Sirik, dan Bandar Abbas.
Presiden AS Donald Trump membenarkan adanya serangan baru di Qeshm sehari sebelumnya, tetapi mengecilkan skalanya sebagai "minor". Trump menambahkan Teheran masih menginginkan kesepakatan saat perundingan yang dimediasi Qatar terus berlangsung.
Dari pihak Iran, Angkatan Laut Garda Revolusi Islam (IRGC) melaporkan dua tanker minyak menabrak ranjau laut di dekat Selat Hormuz. Televisi negara Iran, mengutip pernyataan angkatan laut, menyebut kedua tanker melintasi bagian "tidak aman" selat dengan sistem navigasi dimatikan, lalu "mengalami kerusakan parah dan berhenti setelah menabrak ranjau laut".
Perluasan Medan Tekanan AS terhadap Teheran
Langkah CENTCOM memindahkan sebagian tekanan dari laut ke darat. Selat Hormuz tetap menjadi titik paling rawan karena menjadi jalur utama pelayaran energi dunia, sementara perbatasan darat Iran dan Laut Kaspia menjadi celah yang kini dibidik Washington.
Hingga kini belum ada keterangan resmi Iran soal rincian Satgas Iron Gate. Pemerintah Iran sebelumnya berulang kali menegaskan bahwa blokade dan sanksi tidak akan memaksa mereka menyerah pada tuntutan AS.
Yang ditunggu dalam waktu dekat adalah hasil perundingan mediasi Qatar dan apakah eskalasi di Qeshm serta insiden ranjau di Hormuz akan memengaruhi jalannya pembicaraan. Kedua pihak sama-sama mengklaim masih membuka ruang diplomasi, meski aksi militer di lapangan terus berlanjut.