Lifting Migas Kalsul 123% Target APBN, Produksi Minyak 77 Ribu Barel

Lifting Migas Kalsul 123% Target APBN, Produksi Minyak 77 Ribu Barel
Realisasi lifting minyak dan kondensat SKK Migas Kalsul mencapai 77.003 barel per hari hingga triwulan III-2026.

BERITAENERGI.COM — SKK Migas Wilayah Kalimantan dan Sulawesi mencatat realisasi lifting minyak dan kondensat 77.003 barel per hari hingga triwulan III-2026, atau 123 persen dari target APBN 62.503 barel per hari. Capaian gas bumi juga memenuhi target 100 persen di tengah tren produksi nasional yang menurun. Kontribusi Kalsul tercatat 13 persen untuk minyak dan 29 persen untuk gas dari total nasional.

Kepala Perwakilan SKK Migas Kalsul Haryanto Syafri menyebut capaian minyak itu terjadi saat produksi nasional sedang turun. "Di saat produksi nasional sedang turun, ternyata produksi Kalsul itu stabil dan naik. Ini adalah prestasi kita bersama untuk kita jaga dan kita pertahankan," ujar Haryanto di Balikpapan.

Kontribusi Minyak dan Gas ke Nasional

Dari sisi minyak, Kalsul menyumbang 13 persen terhadap lifting nasional. Adapun untuk gas bumi, realisasi lifting tercatat 1.525 juta standar kaki kubik per hari (mmscfd) dari total produksi 1.651 mmscfd. Target APBN untuk gas ditetapkan 1.526 mmscfd, sehingga capaian Kalsul memenuhi 100 persen target.

Porsi gas Kalsul terhadap total lifting gas nasional yang sebesar 5.193 mmscfd mencapai 29 persen. Artinya, hampir sepertiga pasokan gas nasional berasal dari wilayah kerja ini. Angka lifting gas tersebut belum memasukkan feed gas untuk LPG dan NGL.

Siapa Operator di Balik Capaian

Pencapaian ini ditopang operasional sejumlah kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) di Kalsul. Di antaranya PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM), PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT), dan PT Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS). Operator blok laut dalam seperti Eni Indonesia dan Mubadala Energy juga ikut berkontribusi.

Selain fasilitas eksisting, penguatan hulu migas regional disiapkan lewat pengembangan temuan cadangan besar di lepas pantai Kalimantan Timur. Sebut saja Geng North, Gula, Konta, hingga penemuan terbaru Geliga-1 yang akan dihubungkan melalui integrasi fasilitas produksi hulu atau hub.

Proyek North Hub dan South Hub

Proyek North Hub yang mengintegrasikan lapangan Geng North dan Gehem telah mencapai Keputusan Investasi Akhir (FID). Fasilitas itu ditargetkan beroperasi pada 2028 dengan kapasitas olahan besar. Langkah serupa diterapkan pada South Hub yang menghubungkan lapangan Gendalo dan Gandang.

Haryanto berharap pengembangan fasilitas pengolahan di Bontang bisa menambah kapasitas produksi. "Mudah-mudahan ke depan dengan rencana pengembangan fasilitas pengolahan seperti di Bontang, dari dua train yang ada bisa berkembang menjadi enam train. Di situ akan ada peluang produksi yang lebih baik, sehingga rantai bisnis ke belakangnya akan ikut hidup kembali," kata dia.

SKK Migas menegaskan fokus lembaga bersama KKKS berorientasi pada tiga hal: menjaga keandalan fasilitas produksi yang berjalan, mengoptimalkan penemuan cadangan baru, serta memastikan aspek keamanan operasional di lapangan. Untuk alokasi pemanfaatan gas bagi industri dan kelistrikan domestik, seluruhnya mengikuti kebijakan yang ditetapkan pemerintah pusat.

Stabilnya produksi Kalsul menjadi penopang pasokan energi primer nasional di tengah tekanan penurunan lifting. Dengan proyek hub yang memasuki tahap konstruksi, wilayah ini berpeluang memperpanjang kontribusinya sekaligus menghidupkan kembali rantai bisnis turunan di sekitar Bontang dan Balikpapan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index