BERITAENERGI.COM — PT Pertamina (Persero) mengoperasikan Pertamina Digital Hub sebagai pusat monitoring, surveillance, dan optimalisasi perusahaan berbasis data terintegrasi. Fasilitas ini menjadi fondasi pengambilan keputusan strategis di industri energi yang tidak lagi mengandalkan asumsi, melainkan validasi data real-time.
Pertamina Digital Hub dirancang bukan sekadar ruang pemantauan operasional. Fasilitas ini berperan sebagai pusat sinergi pengelolaan crisis dan business continuity, sekaligus tempat data dari seluruh lini bisnis diolah menjadi dasar kebijakan operasional dan bisnis perusahaan.
Langkah Pertamina mengembangkan hub digital berangkat dari skala bisnisnya yang membentang dari hulu ke hilir. Mulai dari pencarian minyak, pengolahan, hingga pendistribusian BBM ke seluruh pelosok Indonesia.
Data Hulu-Hilir Jadi Dasar Keputusan Manajemen
Melalui implementasi Data-Driven Decision Making, Pertamina Digital Hub menempatkan data sebagai aset berharga. Manajemen memperoleh visibilitas terintegrasi dari hulu ke hilir untuk mengidentifikasi tren, memprediksi potensi risiko operasional, dan merespons dinamika pasar secara lebih presisi.
Pengolahan data skala besar dilakukan berjenjang, mulai dari deskriptif, diagnostik, hingga preskriptif. Tujuannya mengurai kompleksitas rantai nilai energi Pertamina yang melibatkan banyak subholding.
VP Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron menyatakan skala bisnis perusahaan membuat pemanfaatan teknologi digital dan AI menjadi kebutuhan penting.
"Bisnis Pertamina yang sangat besar, mulai dari hulu hingga hilir, mulai dari pencarian minyak, mengolahnya hingga bagaimana mendistribusikannya ke seluruh pelosok Indonesia, tentu memerlukan dukungan penggunaan teknologi digital dan AI," kata Baron.
Menurut Baron, teknologi digital dan AI tidak hanya mendukung peningkatan kinerja bisnis. Keduanya juga membantu Pertamina menjalankan tugas menjaga ketahanan energi nasional.
"Pertamina harus memastikan ketersediaan (Availability), keterjangkauan (Affordability), aksesibilitas (Accessibility), dan keterterimaan (Acceptability) BBM di seluruh Indonesia," ujarnya.
Tiga Pilar Transformasi Digital Pertamina
Senior Vice President Pertamina Digital Hub Ignatius Sigit Pratopo menjelaskan perusahaan mengembangkan konsep Digital Value Creation. Konsep ini memastikan setiap inovasi digital memberi dampak nyata terhadap bisnis, bukan sekadar penerapan teknologi.
"Digital Value Creation menjadi prioritas utama dalam RJPP Pertamina. Pendekatan tersebut menjadi fondasi dalam membangun penerapan AI yang terukur dan memberikan dampak langsung terhadap bisnis," ujarnya.
Transformasi digital Pertamina berdiri di atas tiga pilar. Pertama, Digital Factory, yang mengidentifikasi pain points dan menghasilkan produk value-driven bagi bisnis.
Kedua, Remote Surveillance, yang mewujudkan visibilitas operasional dan mempercepat pengambilan keputusan. Ketiga, Tech Orchestration Center, yang mendorong inovasi dan kolaborasi di sepanjang value chain.
Dengan solusi digital terintegrasi, perusahaan dapat meningkatkan visibilitas kondisi operasional, mempercepat analisis data untuk menghasilkan insight dan rekomendasi, serta mengambil keputusan secara lebih responsif.
AI untuk Efisiensi dan Ketahanan Energi
Pertamina Digital Hub mengoptimalkan pemanfaatan Artificial Intelligence untuk berbagai kebutuhan bisnis. Teknologi ini membantu mengolah data dalam jumlah besar sehingga menghasilkan insight dan rekomendasi yang bisa langsung dipakai manajemen.
Pendekatan berbasis data memungkinkan perusahaan meminimalisasi ketidakpastian, mengoptimalkan alokasi sumber daya, dan memastikan setiap langkah strategis berdampak pada kinerja perusahaan. Bagi pelanggan, ujungnya adalah pasokan energi yang lebih terjamin hingga ke daerah terpencil.
Bagi Pertamina, transformasi digital bukan soal teknologi semata. Perusahaan menempatkannya sebagai bagian dari upaya memperkuat koordinasi lintas subholding sekaligus meningkatkan efektivitas pengelolaan energi nasional di tengah kebutuhan energi yang terus meningkat.