BMW PHK 1.800 Karyawan di China, Penjualan Anjlok 21,8 Persen

Rabu, 04 November 2026 | 19:00:32 WIB
Karyawan BMW Brilliance Automotive di Shenyang terdampak pemangkasan 1.800 tenaga kerja.

BERITAENERGI.COM — BMW Brilliance Automotive memangkas 1.800 karyawan di China, sekitar 10 persen dari total tenaga kerja perusahaan patungan di Shenyang, Provinsi Liaoning. Pemutusan hubungan kerja berlaku sejak Senin (2/11) dan menyasar lini produksi hingga staf administratif. Langkah efisiensi diambil setelah pengiriman BMW dan Mini di China anjlok 21,8 persen menjadi sekitar 376.000 unit.

Pemangkasan tenaga kerja BMW Brilliance Automotive (BBA) dikonfirmasi sejumlah karyawan yang terdampak. Porsi terbesar efisiensi menyasar pekerja di fasilitas manufaktur utama BMW di Shenyang, Provinsi Liaoning, seperti dikutip CarNewsChina, Selasa (3/11).

Fasilitas Shenyang sendiri merupakan basis produksi terbesar BMW di dunia. Tujuh puluh lima persen saham BBA dikuasai BMW Group, dan pabriknya merakit model Seri 3, Seri 5, X1, X3, X5, hingga lini kendaraan listrik i5, i3, dan iX3 Neue Klasse.

Paket Pesangon Skema N+5 untuk Karyawan Terdampak

Karyawan yang terkena PHK menerima kompensasi dengan skema N+5. Komponen N dihitung dari gaji bulanan sebelum pajak, sementara tambahan angka 5 diambil dari gaji pokok di luar bonus kinerja.

Skema itu lebih tinggi dari ketentuan minimum pesangon di China, meski belum ada keterangan resmi BMW Group soal total nilai kompensasi yang disiapkan. Perusahaan juga belum merinci berapa lama proses pemutusan berlangsung.

Bagian dari Restrukturisasi Global 8.000 Karyawan

Pemangkasan di China merupakan bagian dari rencana restrukturisasi global BMW Group. Induk usaha asal Jerman itu menargetkan pengurangan sekitar 8.000 karyawan, atau 5 persen dari total 154.000 tenaga kerja global.

Fokus efisiensi di kantor pusat Jerman berbeda dari China. Di Jerman, pemangkasan lebih diarahkan ke bagian administratif, riset dan pengembangan (R&D), serta perencanaan proyek. Sementara di Shenyang, lini produksi ikut terdampak.

Laba Sebelum Pajak BMW Merosot 29,4 Persen

Tekanan finansial jadi latar kebijakan efisiensi. Pada paruh pertama 2026, laba sebelum pajak BMW turun 29,4 persen secara year-on-year. Marjin EBIT segmen otomotif terpuruk ke 3,6 persen, jauh di bawah target jangka panjang perusahaan di rentang 8 hingga 10 persen.

Volume pengiriman global BMW pada tiga kuartal pertama 2026 turun 4,9 persen menjadi 1,71 juta unit. Pasar China yang selama ini jadi penyumbang terbesar justru mencatat penurunan paling tajam.

Kontribusi China Menyusut dari 32,3 ke 25,4 Persen

Pengiriman unit BMW dan Mini di Negeri Tirai Bambu anjlok 21,8 persen menjadi sekitar 376.000 unit. Kontribusi pasar China terhadap penjualan global BMW menyusut dari 32,3 persen pada 2023 menjadi 25,4 persen pada 2025.

Penurunan di China terjadi saat merek lokal dan kendaraan listrik Tiongkok makin agresif menguasai pasar. BMW belum mengumumkan apakah pemangkasan serupa akan menyentuh jaringan produksi atau penjualannya di kawasan lain, termasuk Indonesia.

Terkini