Harga Gas Alam Dunia Melonjak, LPG 3 Kg Tetap Rp19.000 per Tabung

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 06:01:01 WIB
Pemerintah memastikan harga LPG bersubsidi 3 kg tetap Rp19.000 per tabung di pangkalan resmi hingga akhir tahun 2026.

BERITAENERGI.COM — Harga gas alam dunia kembali bergolak pada akhir Oktober 2026, dengan kontrak TTF Belanda menyentuh €98,67 per MWh—level tertinggi dalam 30 hari terakhir. Di tengah gejolak itu, Kementerian ESDM memastikan harga LPG bersubsidi 3 kg tidak berubah hingga akhir tahun, tetap Rp19.000 per tabung di pangkalan resmi Pertamina.

Pemerintah menahan laju harga energi bersubsidi saat pasar global bergejolak. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan stok LPG bersubsidi nasional masih terjaga di atas standar minimum. Komitmen itu dipegang untuk menjaga stabilitas harga energi yang paling banyak dipakai rumah tangga dan usaha kecil.

Di tingkat pengecer, harga LPG 3 kg mencapai Rp22.000 per tabung karena sudah termasuk ongkos kirim. Pemerintah mengimbau masyarakat membeli di pangkalan resmi agar mendapat harga sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) sekaligus jaminan takaran. Pangkalan resmi Pertamina kini tersebar di lebih dari 259.000 titik seluruh Indonesia.

Bright Gas Belum Disesuaikan

PT Pertamina Patra Niaga belum mengubah harga Bright Gas. Tarif yang berlaku saat ini merupakan hasil penyesuaian terakhir sejak awal Oktober 2026. Harga di tingkat pangkalan biasanya lebih mahal Rp15.000-20.000 per tabung dari harga agen.

Ongkos distribusi membuat harga Bright Gas berbeda antarwilayah. Maluku dan Papua mencatat harga termahal, dengan selisih Rp27.000 per tabung untuk ukuran 5,5 kg dibanding wilayah Jawa. Kawasan perdagangan bebas Batam justru paling murah, yakni Rp100.000 untuk tabung 5,5 kg dan Rp209.000 untuk 12 kg.

Henry Hub Melemah Dua Sesi Beruntun

Di pasar Amerika Utara, benchmark Henry Hub turun ke US$2,89 per MMBtu pada perdagangan Jumat (30/10/2026), melemah 2,05% dalam sehari. Harga turun untuk sesi kedua berturut-turut setelah ditutup di US$2,95 pada Kamis.

Prakiraan suhu lebih hangat dari normal hingga 13 November menekan permintaan gas pemanas. Produksi domestik yang pulih turut menambah tekanan. Sepanjang Oktober, produksi gas Lower 48 rata-rata 112,1 bcfd, sedikit di bawah rekor 113,3 bcfd pada Agustus-September, meski produksi harian sudah kembali ke level itu pada pekan terakhir.

Data EIA menunjukkan inventaris gas Amerika naik 80 Bcf pekan lalu, lebih tinggi dari ekspektasi pasar 75 Bcf. Total stok mencapai 3,724 triliun kaki kubik, sekitar 1% di atas rata-rata lima tahun. Secara bulanan harga Henry Hub turun 2,54% dan secara tahunan merosot 29,88%.

Ekspor LNG memberi sokongan. Aliran gas ke sembilan terminal ekspor utama Amerika naik ke rata-rata 19,1 bcfd pada dua pekan terakhir, dari 18,3 bcfd sepanjang Oktober dan 17,9 bcfd pada September. EIA memproyeksikan rata-rata Henry Hub 2026 di US$3,67 per MMBtu.

Eropa dan Asia Masih Berebut Kargo

TTF Belanda menguat ke €98,67 per MWh pada penilaian 29 Oktober 2026, naik 0,57% dari €98,11 sehari sebelumnya. Level itu tertinggi dalam 30 hari dan berada di puncak rentang €72,20-98,67 per MWh dengan rata-rata €85,04 per MWh.

Di Asia, Japan Korea Marker (JKM) turun tipis ke US$32,12 per MMBtu pada 30 Oktober, melemah 1,02% dari US$32,45. Meski turun harian, JKM bertahan di kisaran tertinggi 12 bulan. Secara mingguan JKM masih naik 1,97%, bulanan 24,48%, dan dibanding setahun lalu melonjak 187,87%.

Pembeli LNG di Jepang, Korea Selatan, dan China terus berlomba mengamankan kargo menjelang musim dingin. Persaingan itulah yang menahan JKM di level tinggi meski pasokan Amerika menguat.

Tekanan ke Subsidi Energi

Selisih tajam antara harga gas global dan HET LPG 3 kg membuat posisi subsidi pemerintah makin berat. Setiap kenaikan harga acuan dunia menambah beban anggaran jika harga eceran ditahan. Keputusan menahan HET hingga akhir 2026 berarti pemerintah menanggung selisih itu.

Bagi rumah tangga dan pelaku usaha mikro, stabilitas Rp19.000 per tabung memberi kepastian biaya operasional di tengah pelemahan daya beli. Namun keberlanjutan kebijakan ini akan bergantung pada pergerakan TTF dan JKM pada kuartal IV 2026, periode puncak permintaan gas di belahan bumi utara.

Terkini