BERITAENERGI.COM — PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID) mendirikan PT Bestari Mitra Talenta (BEST) melalui dua anak usahanya, PT Bisa Ruang Nuswantara (BIRU) dan PT Katalis Investama Mandiri (KIM). Langkah korporasi ini memperluas portofolio DOID dari jasa pertambangan ke layanan penunjang usaha dan teknologi informasi. Manajemen menegaskan pendirian BEST tidak berdampak material terhadap kinerja perseroan.
Direktur DOID Silfanny Fadillah Bahar menyampaikan pendirian BEST bertujuan menunjang kebutuhan operasional Grup DOID. Perusahaan baru ini tidak lagi bergerak di jasa tambang, melainkan di aktivitas administratif, penunjang usaha, dan layanan digital.
Apa Saja Lini Usaha BEST
BEST akan menjalankan sejumlah kegiatan usaha yang saling terkait. Cakupannya meliputi penyediaan jasa penunjang fasilitas, kebersihan bangunan, dan jasa lansekap.
Selain itu, BEST menyediakan tenaga kerja dan administrasi kantor. Layanan teknologi informasi dan pengolahan data juga masuk dalam rencana bisnis perusahaan.
Fokus kegiatan usaha BEST mencakup aktivitas telekomunikasi, pemrograman komputer, konsultansi, infrastruktur komputasi, serta jasa informasi lainnya. Kombinasi ini menempatkan BEST sebagai penyedia layanan internal yang menopang operasional grup, bukan entitas tambang baru.
Posisi BIRU dan KIM di Struktur DOID
BIRU dan KIM berperan sebagai kendaraan investasi DOID dalam pendirian BEST. DOID memegang BIRU sebanyak 249 saham atau setara Rp249 juta, dengan persentase kepemilikan 99,6 persen.
Struktur kepemilikan bertingkat ini lazim dipakai grup tambang untuk memisahkan lini bisnis penunjang dari operasi inti. Dengan begitu, kebutuhan administrasi dan teknologi informasi grup bisa ditangani entitas khusus.
Dampak ke Kinerja Perseroan
Manajemen DOID menegaskan pendirian BEST tidak memberikan dampak material terhadap kegiatan operasional, hukum, kondisi keuangan, maupun kelangsungan usaha perseroan.
“Pendirian BEST tidak memberikan dampak material terhadap kegiatan operasional, hukum, kondisi keuangan, atau kelangsungan usaha perseroan,” tegas Silfanny dalam keterbukaan informasi, Selasa (3/11/2026).
Pernyataan itu penting bagi investor karena aksi korporasi seperti ini kerap memicu pertanyaan soal beban biaya baru. DOID memilih jalur konservatif: menambah entitas tanpa mengubah laporan keuangan secara signifikan.
Dari Delta Dunia ke Buma Internasional
Buma International Group sebelumnya dikenal sebagai Delta Dunia Group. Portofolio bisnisnya kini beragam, termasuk penyedia jasa pertambangan terkemuka di Indonesia dan Australia yang memasok batu bara berkualitas tinggi.
Ekspansi ke layanan penunjang dan digital menunjukkan arah diversifikasi grup. Pendapatan dari jasa tambang batu bara tetap menjadi tulang punggung, sementara lini usaha baru berperan memperkuat rantai pendukung internal.
Bagi pembaca industri, langkah DOID mencerminkan pola yang mulai umum di sektor tambang: perusahaan tidak hanya mengejar volume produksi, tetapi juga merapikan fungsi penunjang agar lebih efisien dan terkontrol.