BERITAENERGI.COM — PT PLN (Persero) menandatangani nota kesepahaman dengan Pemerintah Australia pada akhir Oktober 2026 untuk memperkuat transisi energi, mencakup pengembangan baterai penyimpanan energi hingga penguatan jaringan listrik di Jawa Timur dan Bali. Kemitraan ini menjadi pijakan PLN mengubah peran dari sekadar penyedia listrik menjadi penyedia solusi energi menyeluruh. Bagi konsumen, kerja sama ini menyasar keandalan pasokan listrik di tengah masuknya energi terbarukan yang bergantung cuaca.
PT PLN (Persero) resmi menjalin kemitraan strategis dengan Pemerintah Australia melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pada akhir Oktober 2026. Kerja sama ini mencakup pertukaran pengetahuan, pengembangan talenta, hingga penjajakan peluang pembiayaan untuk proyek ketenagalistrikan. Langkah tersebut diambil saat Indonesia mengejar target Net Zero Emissions (NZE) pada 2060.
Wakil Direktur Utama PT PLN (Persero) Yusuf Didi Setiarto menyebut dukungan Australia punya arti penting bagi perseroan. Menurut dia, kemitraan ini menjadi batu pijakan untuk mengubah arah gerak PLN dari penyedia arus listrik menjadi penyedia solusi energi yang utuh (energy solution provider).
"Dukungan Pemerintah Australia memiliki arti penting bagi PLN, baik dalam pengembangan talenta, pertukaran pengetahuan dan teknologi, maupun penjajakan peluang pembiayaan," tutur Didi.
Baterai Raksasa untuk Energi Hijau yang Tak Stabil
Energi terbarukan seperti matahari dan angin punya karakteristik intermittent, bergantung pada cuaca. Pasokan daya bisa mendadak anjlok saat cuaca berganti. Karena itu, sistem kelistrikan dituntut jauh lebih fleksibel.
PLN mempelajari penyerapan teknologi battery energy storage system (BESS) bersama lembaga riset Australia, Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO), dan Department of Climate, Environment and Water. BESS berfungsi menyerap kelebihan energi hijau dan mengucurkannya kembali saat dibutuhkan. Kolaborasi itu juga mencakup kajian fleksibilitas operasi pembangkit.
Jaringan Jawa Timur dan Bali Jadi Prioritas
Dari ruang riset, keandalan sistem dibawa ke lapangan. PLN menjajaki dukungan pembiayaan dari Export Finance Australia (EFA) untuk proyek Eastern Java & Bali Grid Strengthening. Proyek ini menyasar penguatan transmisi, gardu induk, hingga jaringan distribusi di Jawa Timur dan Bali.
Kawasan tersebut menanggung beban pasokan listrik untuk pusat industri dan permukiman padat. Penguatan jaringan menjadi kunci agar pasokan tetap stabil ketika kapasitas energi terbarukan masuk ke sistem.
Antisipasi Cuaca Ekstrem dan Regenerasi SDM
Perubahan iklim membuat infrastruktur listrik kian rentan dihantam cuaca ekstrem. PLN menggandeng Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Australia lewat program Capacity Building Skenario Iklim dan Ketahanan Sistem. Program ini melatih pengambil keputusan merancang strategi ketenagalistrikan berbasis analisis data iklim.
Di sisi sumber daya manusia, program Australia-Indonesia Climate and Sustainable Infrastructure Partnership (KINETIK) menyusun Three-Year Human Capital Development Roadmap 2027–2030. Peta jalan itu dirancang selaras dengan prinsip Just Energy Transition, transisi berkeadilan yang membekali pekerja PLN dengan keahlian global tanpa mengabaikan aspek sosial masyarakat.
"Penguatan infrastruktur harus berjalan beriringan dengan pengembangan teknologi dan kualitas SDM. Melalui pertukaran pengetahuan dan pengalaman internasional, kami ingin menyiapkan talenta PLN yang mampu mengelola sistem ketenagalistrikan masa depan," imbuh Didi.
Timbal Balik bagi Kedua Negara
Duta Besar Australia untuk Indonesia, Roderick Brazier, menilai kemitraan ini bersifat dua arah. Australia ingin terlibat dalam perjalanan transisi energi Indonesia sekaligus belajar dari PLN soal kebutuhan dan kondisi lapangan.
"Kami ingin menjadi bagian dari perjalanan transisi energi Indonesia dan memahami bahwa PLN akan memainkan peran sentral dalam elektrifikasi tersebut. Kemitraan ini juga bersifat timbal balik. Kami belajar banyak dari PLN dalam memahami lingkungan dan kebutuhan Indonesia," ungkap Brazier.
Bagi PLN, hasil akhir kemitraan ini bukan sekadar dokumen kerja sama. Ujiannya ada pada keandalan pasokan listrik di Jawa Timur dan Bali serta kesiapan sistem menampung energi terbarukan dalam skala lebih besar menuju 2060.