Laba Bersih SGER Naik 9,48% Jadi Rp140,3 Miliar pada Semester I/2026

Selasa, 13 Oktober 2026 | 14:10:19 WIB
Foto dok: sumberglobalenergy.co.id

JAKARTA — PT Sumber Global Energy Tbk. (SGER), emiten perdagangan komoditas pertambangan, membukukan laba bersih sebesar Rp140,30 miliar pada semester I/2026. Capaian tersebut meningkat 9,48% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp128,16 miliar.

Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian interim per 30 Juni 2026 yang belum diaudit, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk SGER mencapai Rp137,95 miliar, naik 8,83% secara tahunan atau year-on-year (YoY) dari Rp126,75 miliar pada semester I/2025.

Sejalan dengan kenaikan laba, laba per saham dasar SGER juga meningkat menjadi Rp8,85 per saham, dibandingkan Rp8,13 per saham pada semester I/2025.

Pendapatan SGER Tumbuh 6,73% Jadi Rp4,32 Triliun

Kenaikan laba bersih Sumber Global Energy ditopang oleh pertumbuhan pendapatan. Hingga akhir Juni 2026, SGER membukukan pendapatan bersih sebesar Rp4,32 triliun, meningkat 6,73% YoY dibandingkan Rp4,05 triliun pada semester I/2025.

Beban pokok pendapatan turut meningkat dari Rp3,81 triliun menjadi Rp4,02 triliun. Meski demikian, laba kotor perseroan tumbuh 24,26% YoY menjadi Rp301,26 miliar, dari Rp242,44 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari sisi operasional, beban umum dan administrasi meningkat menjadi Rp82,34 miliar dari Rp63,87 miliar. Beban keuangan juga naik menjadi Rp82,90 miliar dibandingkan Rp61,88 miliar pada semester I/2025.

Di sisi lain, beban pajak penghasilan turun dari Rp35,55 miliar menjadi Rp24,34 miliar. Penurunan beban pajak tersebut turut mendukung pertumbuhan laba bersih SGER pada semester pertama 2026.

Aset SGER Naik Jadi Rp6 Triliun

Dari sisi neraca, total aset Sumber Global Energy mencapai Rp6 triliun per 30 Juni 2026, meningkat 6,51% dibandingkan posisi akhir Desember 2025 sebesar Rp5,64 triliun.

Aset lancar perseroan antara lain ditopang oleh uang muka atau advances sebesar Rp3,39 triliun dan piutang usaha pihak ketiga bersih senilai Rp773,08 miliar. Sementara itu, saldo kas dan bank tercatat sebesar Rp270,02 miliar.

Dalam penjelasan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), manajemen menyebut kenaikan aset antara lain dipengaruhi oleh peningkatan piutang usaha pihak ketiga bersih.

Piutang usaha tersebut melonjak 116,20% atau bertambah Rp415,51 miliar, dari Rp357,57 miliar pada 31 Desember 2025 menjadi Rp773,08 miliar per 30 Juni 2026.

Menurut manajemen, peningkatan piutang terjadi karena kenaikan penjualan pada akhir kuartal II/2026 yang pembayarannya belum diterima hingga tanggal pelaporan.

Seiring dengan kondisi tersebut, kas dan setara kas turun 25,26% dari Rp361,27 miliar pada akhir 2025 menjadi Rp270,02 miliar per akhir Juni 2026.

Liabilitas SGER Meningkat Jadi Rp3,42 Triliun

Total liabilitas SGER mencapai Rp3,42 triliun per 30 Juni 2026, meningkat dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar Rp3,27 triliun.

Manajemen menjelaskan, kenaikan liabilitas tersebut dipengaruhi oleh tambahan utang untuk mendukung aktivitas pembelian batu bara. Perseroan menyatakan perubahan total kewajiban tersebut tidak memberikan dampak negatif terhadap kinerja perusahaan.

Liabilitas jangka pendek SGER tercatat sebesar Rp2,51 triliun. Salah satu komponen utamanya adalah utang bank jangka pendek yang turun 38,12% menjadi Rp862,31 miliar, dari Rp1,39 triliun pada akhir Desember 2025.

Penurunan tersebut terjadi akibat reklasifikasi pembiayaan yang diterima perseroan.

Sementara itu, utang lain-lain kepada pihak berelasi meningkat 51,71% menjadi Rp229,73 miliar, dari Rp151,43 miliar. Kenaikan ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan modal kerja pembelian batu bara.

Bagian utang bank jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun juga meningkat 392,90% menjadi Rp72,62 miliar, dibandingkan Rp14,73 miliar pada akhir 2025. Perubahan tersebut seiring dengan pembiayaan pada PT Hidrogen Peroxida Indonesia.

Adapun liabilitas jangka panjang SGER tercatat sebesar Rp912,68 miliar.

Utang bank jangka panjang setelah dikurangi bagian yang jatuh tempo dalam satu tahun meningkat 69,94% menjadi Rp800,60 miliar, dari Rp471,10 miliar pada akhir tahun lalu. Kenaikan tersebut berkaitan dengan reklasifikasi pembiayaan perseroan.

Selain itu, utang obligasi melonjak 816,01% menjadi Rp86,70 miliar, dari Rp9,47 miliar pada akhir 2025. Tambahan obligasi tersebut digunakan untuk menunjang aktivitas pembelian batu bara.

Ekuitas SGER Meningkat Jadi Rp2,58 Triliun

Di sisi permodalan, total ekuitas konsolidasian SGER mencapai Rp2,58 triliun per 30 Juni 2026, meningkat dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar Rp2,36 triliun.

Saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya tercatat sebesar Rp1,30 triliun. Peningkatan ekuitas tersebut sejalan dengan penguatan posisi modal perseroan pada semester pertama 2026.

Dengan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih, SGER membukukan kinerja positif pada semester I/2026. Namun, peningkatan piutang usaha dan liabilitas serta penurunan kas menjadi sejumlah pos keuangan yang perlu dicermati dalam melihat perkembangan kondisi keuangan perseroan.

Terkini